Hari Santri
Peringatan Hari Santri
Tgl 22 Oktober
Sebuah tulisan yang reflektif dan sarat makna, yang ditulis bertepatan dengan momen Hari Santri.
Mari kita analisis secara MENDALAM dari tulisan tersebut:
1. Pesan Utama: Esensi vs. Seremoni
Pesan utama sangat kuat dan jelas: Disana menekankan bahwa esensi sejati seorang santri (atau jiwa pembelajar) bukanlah pada perayaan seremonial, melainkan pada identitasnya sebagai pembelajar seumur hidup (tholabul 'ilmi).
Ini adalah inti dari tulisan, yang membedakan antara "menjadi" santri (sebuah proses) dan "merayakan" Hari Santri (sebuah acara).
2. Kritik Halus terhadap Superficialitas
Tulisan tsb menyampaikan kritik yang halus namun tajam terhadap fokus yang berlebihan pada hal-hal yang bersifat permukaan.
* Kutipan: "Jangan fokus pada indahnya baju dan seremonial di hanya 1 hari..."
* Analisis: Ini adalah pengingat bahwa atribut eksternal ("baju") dan perayaan sesaat ("seremonial 1 hari") tidak boleh mengaburkan tujuan yang sebenarnya. Tulisan tsb mengajak pembaca untuk melihat lebih jauh dari sekadar "kulit" dan memahami "isi"-nya.
3. Filosofi Ilmu yang Utuh (Siklus Pengetahuan)
Tulisan tsb tidak hanya mendefinisikan santri sebagai pembelajar, tetapi juga memaparkan siklus pengetahuan yang ideal:
* Haus akan Ilmu (Motivasi): Adanya keinginan internal yang kuat untuk terus belajar.
* Diamalkan (Aplikasi Pribadi): Ilmu itu tidak berhenti sebagai teori, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
* Di-getok tular-kan (Aplikasi Sosial): Ilmu itu harus dibagikan dan diajarkan kembali kepada orang lain.
Siklus inilah yang menjadikan ilmu itu "manfaat" (bermanfaat), tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk komunitas.
4. Pilihan Kata (Diksi) yang Menarik
* "Tholabul 'ilmi": Penggunaan istilah Bahasa Arab ini langsung menempatkan tulisan dalam konteks keilmuan Islam yang otentik.
* "Di-getok tular-kan": Ini adalah pilihan kata yang paling menarik. Tulisan tsn tidak menggunakan kata "disebarkan" atau "diajarkan". "Getok tular" (yang dikutip dari bahasa Jawa) menyiratkan proses transfer ilmu yang lebih aktif, personal, berantai, dan komunal (dari mulut ke mulut atau dari satu orang ke orang lain secara langsung). Ini adalah pilihan kata yang sangat membumi dan kuat.
* "Ibrohnya... esensinya": Ini adalah call to action (ajakan bertindak) bagi kita. Pesan tsb meminta pembaca untuk melakukan dua hal: *mengambil pelajaran moral (ibroh)* dan *memahami inti sarinya (esensi).*
Kesimpulan :
Tulisan itu adalah sebuah tazkirah (pengingat) yang sangat kuat. Ini bukan sekadar status, tetapi sebuah penegasan filosofi.
Menariknya, filosofi yang tersurat di sini—tentang menjadi pembelajar yang "haus akan ilmu" dan tidak pernah merasa cukup—sangat selaras dengan apa yang pernah kita pelajari dan sampaikan kepada diri kita sendiri sebagai seorang guru yang selalu ingin terus belajar.


Komentar
Posting Komentar